Sabtu, 23 Juli 2011

ASUHAN KEPERAWATAN SEPTUM DEVIASI

SEPTUM DEVIASI

PENGERTIAN
Dikatakan septum deviasi jika terdapat penyimpangan dari media spenoidalis oleh adanya perubahan struktur  mukosa tulang rawan
Septum deviasi dikatan juga hidung bengkok karena adanya penyimpangan garis  tengah disertai obstruksi Nasi yang belum tahu penyebabnya.

ETIOLOGI DAN FAKTOR PENYEBAB
1. Trauma baik langsung maupun tidak langsung
Trauma langsung bila terjadi cidera pada wajah ( hidung), sedangkan trauma tidak langsung  yang biasa terjadi pada saat bayi yaitu mukosa tulang rawan palatum yang tidak terdeteksi dini.

2. Patologi
Terjadi pertumbuhan dan perubahan struktur mukosa tulang rawan palatum.

ANATOMI DAN FISIOLOGI
Hidung berbentuk piramide, kira – kita 2/5 bagian atas terdiri dari tulang dan 3/5 bagioan bawahnya terdiri dari tulang rawan, ujung atasnya yang sempit bertemu dengan dahi  diglabela dan disebut radiksnasi atau pangkal hidung.  Pangkal hidung dan sudut bebas diujung bawahnya disebut puncak hidung atau apeks nasi., dipisahkan satu dengan yang lainnya oleh sekat tulang rawan kulit yang disebut kolumela. Permukaan lateral hidung membentuk dorsum pada pertemua digaris tengah, permukaan lateral berakhir membulat dibawah membentuk alanasi.
Bagian tulang terdiri daru dua tulang Nasal yang dibatasi oleh procecus nasalis os frontal diatas, procecus nasalis ofs maxila di lateral dan lamina perdikuloris os ethmoid dan septum dibawahnya.
Bagian tulang rawan terdiri dari terdiri dari dua kartilago lateralis superior, yang bentuknya mirip segi tiga dan bersatu dengan septum digaris tengah tepi atasnya bertemu dengan permukaan bawah os nasal dan procecus frontal os maxilla perlektannya di tunjang oleh adanya jaringa ikat.
Bagian bawah tulang rawan terdiri dari dua kartilago lateralis inferior yang bentuknya bervariasi dan kurang lebih membingkai nares dan membentuk kala nasi. 
Septum mempunyai unsur tulang dan tulang rawan. Kartilago adalah sekeping tulang rawan tunggal yang berbentuk kuadrilateral, merupakan bagian anterior septum.

PATHOFISIOLOGI
Trauma yang terus menerus pada tulang rawan hidung secara langsung ataupun tidak langsung menyebabkan perubahan dan pertumbuhan struktur mukosa tulang rawan sehingga drainage dar sekret terganggu dan hal inilah yang membuat hidung bebrau dan dirasa buntu.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGUMPULAN DATA.
CIRI – CIRI UMUM (BERISI IDENTITAS PASIEN).
RIWAYAT KEPERAWATAN

KELUHAN UTAMA
Tidak dapat bernafas melalui hidung, ada sesuatu yang mengganjal.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG.
Adanya keluhan tidak dapat bernafas melalui hidung, hidung terasa nyeri, tidak dapat makan karena takut tersedak.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pilek terus menerus, biasanya lebih dari satu tahun dan tidak ada perubahan meskipun diberi obat.

PEMERIKSAAN FISIK
Hidung : Ada luka operasi, terdapat tampon + 1,5 mm yang tampak dari luar, pernapasan pindah ke mulut.

PEMERIKSAAN PENUNJANG.
Radiologi
Foto waters adanya kelainan tulang hidung

Pemeriksaan laboratorium 
meliputi : Darah lengkap, Faal hemostasis.

PENATALASANAAN MEDIS.
Konservatif (Obat dekongestan)
Operatif

Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan Pola Nafas Sehubungan dengan Tampon Pada Hidung
2. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan luka operasi.
3. Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan intake yang kurang
A. PERENCANAAN
1. “Perubahan pola nafas sehubungan dengan tampon pada hidung”
Tujuan : Perubahan pola nafas teratasi dalam 2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
- Tampon di lepas
- Klien dapat ber5nafas melalui hidung.
Intervensi : 
- jelaskan tentang perubahan pola nafas dan bernafas  melalui mulut.
- Anjurkan klien untuk tidur ½ duduk (semi fowler) dan nafas melalui mulut.
- Beri tindakan perawatan untuk :
Oral hygiene
Rawat luka dengan BWC dan H2O2 dan xylocain/LA
Nebulizer tanpa obat.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian  kalmethason dan bronchodilator.
- Monitor vital sign.
R a s i o n a l :
- Klien / keluarga mengerti sebab akibat perubahan pola nafas.
- Membuat paru mengembang dengan baik.
- Memberi rasa nyaman dan mencegah infeksi.
- Fungsi interdependent untuk mengencerkan sekret dan melonggarkan pernafasan.
- Mengetahui kelainan dini.

2. “Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan luka operasi”
Tujuan : nyeri berkurang dalam 2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
- klien bisa tidur 
- klien merasa tenang,  T 110/80 mmHg, N 88 x/menit.
Intervensi : 
- Kaji  faktor – faktor yang mempengaruhi nyeri, misal takut / posisi yang salah.
- Kaji tingkat nyeri / lokasi nyeri / intensitas nyeri.
- Anjurkan klien untuk menggunakan teknik :distraksi, relaksasi progresif, cutaneus stimulation.
- Monitor vital sign.
Rasional :
- Ketakutan / posisi salah dapat meningkatkan respon nyeri.
- Menentukan tindakan keperawatan dalam hal untuk penanganan nyeri.
- Mengurangi nyeri
- Mengetahui kelainan dini terhadap respon nyeri
3. “Potensial gangguan pemenuhan nutrisi sehubungan dengan intake kurang”
Tujuan : pemenuhan nutrisi teratasi dalam 2x24 jam.
Kriteria hasil : 
- Klien mau menghabiskan makanannya. 
- BB dalam batas normal, turgor baik.
Intervensi : 
- jelaskan pada klien untuk boleh dan tetap makan secara hati – hati dan sedikit – sedikit.
- Monitor makan tiap hari.
- Beri diet halus dan lunak.
- Kontrol berat badan tiap 2 hari.
Rasional :
- Klien tetap mau makan tanpa takut tersedak.
- Mengetahui seberapa banyak makanan yang masuk.
- Memudahkan pencernaan dan mencegah perdarahan 
- Perkembangan asupan yang adekuat.

B. PELAKSANAAN
Adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana perawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan dengan tujuan agar terpenuhnya kebutuhan klien secara optimal.

C. EVALUASI 
Evaluasi dilakukan dengan mengacu pada tujuan dan kriteria yang telah ditetapkan dalam perencanaan



Photobucket